RSS

Bekisar Merah (novel Ahmad Tohari)

09 Des

Novel Bekisar Merah


Pengarang                    : Ahmad Tohari

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama

Tebal                            : 309 Halaman

Tokoh                          : Lasi, Kanjat, Wiryaji, Eyang Atus, Pak Tir,  Bunet (Tukang Pijat)

 

Ringksan Cerita


Bekisar merupakan sejenis ayam, hasil persilangan antara ayam hutan dengan ayam piaraan. Keberadaannya cukup langka dan memiliki banyak keistimewaan. Sejumlah hobiis ayam dan unggas menghargainya demikian tinggi. Jauh lebih tinggi dari harga masing-masing induknya.

Tetapi novel ini tidak berbicara tentang bekisar dalam artian sesungguhnya. Novel ini justru berkisah tentang kehidupan Karangsoga, kampung pembuat gula kelapa; dimana para lelaki memanjat kelapa untuk memperoleh nira yang dikumpulkan dalam pongkor bambu; sementara para perempuan menunggu dirumah sembari bersiap memasak nira dalam tungku panas hingga menjadi gula.

Meskipun mereka memiliki sendiri pohon kelapa dan memproduksinya hingga menjadi gula, kehidupan mereka tidak pernah sejahtera. Ini karena mereka tidak mampu mengakses pasar secara langsung. Gula kelapa dibeli oleh tengkulak, dengan harga dan timbangan yang menyedihkan. bahan baku maupun tenaga kerja pembuat gula kelapa tidak dihargai sebagaimana mestinya. Sementara tengkulak, cukong dan jaringan distribusi lain mengeruk kemakmuran diatas jerih payah orang lain.

Dengan latar belakang itu, Ahmad Tohari menampilkan tokoh Lasi sebagai sosok sentral. Keturunan blasteran Jawa – Jepang ini dikisahkan sebagai perempuan paling cantik diantara sebayanya. Semasa muda, Lasi selalu menjadi olok-olok teman sekolahnya. Karena matanya yang sipit, berbeda dengan kebanyakan anak Karangsoga. Tetapi ada satu anak yang tidak ikut menggoda Lasi, bernama Kanjat. Dua tahun lebih muda, namun pintar dan baik hati, di mata Lasi.

Menginjak usia dewasa, Lasi kemudian menikah. Ia menjadi istri Darsa, pemanjat yang memiliki dua belas pohon kelapa. Sekaligus juga keponakan Wiryaji, suami sambung ibunya. Kehidupan pasangan muda ini berbahagia, meskipun dalam jerat kemiskinan dan bayangan masa depan tidak menentu. Sampai tiga tahun pernikahan, mereka belum juga memiliki keturunan.

Suatu ketika Darsa jatuh dari pohon kelapa, tidak mati tetapi mengalami luka parah, terus menerus buang air kecil tanpa henti. Dengan sabar Lasi merawatnya. Bahkan sampai menggadaikan tanah pada tengkulak untuk menutup biaya pengobatan Darsa di Rumah Sakit. Meskipun Ia tahu konsekuensinya, harga gula produksinya akan dipermainkan dengan seenak hati oleh tengkulak. Tapi Darsa belum sembuh benar, terpaksa dibawa pulang karena ketiadaan biaya.

Sampai di rumah, Darsa kemudian berobat pada dukun pijat, Bunek. Perlahan tapi pasti, Ia kemudian sembuh. Hingga suatu pagi, Ia mendatangi istrinya bercerita bahwa Ia sudah tidak ngompol lagi. Sejenak kebahagian dirasakan pasangan muda ini. Gairah yang sekian lama terpendam dapat disalurkan. Darsa kembali utuh sebagai lelaki.

Tetapi disinilah justru permasalahan dan konflik mulai terbangun. Tidak berapa lama semenjak kesembuhan Darsa. Sipah, anak Bunek meminta pertanggungjawaban. Ia mengaku hamil oleh perbuatan Darsa. Lasi kemudian kalut, bercampur sedih dan jengkel karena suami yang dirawat dengan penuh kasih dan pengorbanan semasa sakit ternyata berbuat tidak semestinya dengan perempuan lain. Lasi kemudian lari ke Jakarta, menumpang truk Pardi, tetangganya mengantarkan gula kelapa.

Sebagaimana sopir kebanyakan, Pardi memiliki sejumlah rumah makan langganan sepanjang perjalanan menuju Jakarta. Ia juga punya ’pacar’ di tiap rumah makan yang disinggahi. Lasi kemudian dititipkan di salah satu rumah makan langganan Pardi untuk diambil kembali sepulang dari Jakarta. Lasi diperlakukan dengan sangat baik oleh pemilik rumah makan, Bu Koneng. Seolah menemukan kedamaian, Ia tidak mau kembali ke Karangsoga. Tetapi tidak ada kebaikan tanpa pamrih, apalagi di kota besar seperti Jakarta.

Petualangan Lasi berlanjut. Karena keluguannya, Ia tidak sadar kalau masuk dalam perangkap perdagangan perempuan. Lepas dari Bu Koneng, Ia kemudian dibawa oleh Bu Lanting, yang terkagum akan kecantikan Lasi. Sekali lagi, Bu Lanting adalah orang baik di mata Lasi, sementara Lasi berprinsip bahwa ketika menerima kebaikan seseorang, Ia seperti berhutang sehingga harus dibayar dengan kebaikan pula. Karena itu ia menurut saja ketika diajak ikut Bu Lanting ke rumahnya. Perempuan bermata sipit pada masa itu memang sedang tren, mengikuti Pemimpin Besar Revolusi yang memiliki istri bermata sipit.

Oleh Bu Lanting, Lasi dipoles sedemikian rupa sehingga menjadi kian cantik. Ia juga dibiasakan dengan budaya kota, termasuk dalam hal berpakaian dan gaya hidup. Sampai dianggap siap, Ia kemudian dikenalkan dengan Handarbeni, lelaki tua yang sedang mencari perempuan bermata sipit untuk dijadikan istri, entah keberapa.

Singkat cerita, Lasi kemudian menikah dengan Handarbeni. Sebuah pernikahan pura-pura, tanpa makna. Sekedar prestise bagi Handarbeni. Dalam rangka mengurus surat cerai dari Darsa, Lasi kembali ke Karangsoga sebagai ’sosok berbeda’. Lasi yang sangat kaya dan kian cantik. Ia bercengkrama kembali dengan sebagian masa lalunya. Bertemu kembali dengan Kanjat yang sudah menjadi sarjana. Dua insan ini ternyata saling menyukai. Namun masing-masing harus menjalani takdirnya, Lasi kembali ke Jakarta dan menjalani pernikahan semu dengan Handarbeni. Sementara hatinya tetap untuk Kanjat.

Novel ini berakhir dengan tragis, dimana Karangsoga dan penduduknya semakin merana. Namun tampaknya akhir cerita sengaja digantung oleh penulis, entah demi kepentingan interpretasi dan imajinasi pembaca atau apa.

Makna Yang Terkandung

  1. Hidup dan kehidupan adalah sebuah perjuangan yang harus dilakukan oleh semua manusia untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan demi tercapai dan terpenuhinya kenyamanan dan kesejahteraan hidup walaupun dalam prosesnya terdapat banyak hambatan tetapi kita jangan berputus asa dan harus tetap semangat dalam menjalankan kehidupan ini, walaupun seorang wanita sekalipun.
  2. Kisah perdagangan wanita Orang lugu yang menerima kebaikan orang lain dan merasa berkewajiban membalasnya. Dia, tanpa sadar, dan tanpa merasa tertipu atau terintimidasi, masuk dalam alur perdagangan perempuan yang mengekploitasi kecantikan ragawi semata. Bahkan Lasi turut menikmati sesuatu yang justru menjadikannya sebagai obyek.
 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: