RSS

Di Bawah Lindungan Ka’bah (novel HAMKA)

09 Des

Di Bawah Lindungan Ka’bah


Pengarang       : HAMKA

Penerbit           : Perpustakaan Perguruan Kementerian PPK Jakarta  1955

Tebal               : 68 Halaman

Pelaku Utama  : Hamid dan Zainab

Sinopsis


Seorang pemuda bernama Hamid, sejak berumur empat tahun telah ditinggal mati ayahnya. Ayah Hamid mula-mula ialah seorang yang kaya. Karena itu banyak sanak saudara dan sahabatnya. Tetapi setelah perniagaannya jatuh dan menjadi melarat, tak ada lagi sanak saudara dan sahabatnya yang datang. Karena sudah tak terpandang lagi oleh orang-orang sekitarnya itu, maka pindahlah ayah Hamid beserta ibunya ke kota Padang, yang akhirnya dibuatnya sebuah rumah kecil. Di tempat itulah ayah Hamid meninggal.

Tatkala Hamid berumur enam tahun, untuk membantu ibunya ia minta kepada ibunya agar dibuatkan jualan kue-kue untuk dijajakan setiap pagi.

Di dekat rumah hamid terdapat sebuah gedung besar yang berpekarangan luas. Rumah itu telah kosong karena pemiliknya, seorang Belanda, telah kembali ke negerinya. Hanya penjaganya yang masih tinggal, yakni seorang laki-laki tua yang bernama Pak Paiman. Tetapi tak lama kemudian, rumah itu dibeli oleh seorang-orang kaya yang bernama Haji Jakfar. Isterinya bernama Mak Asiah dan anaknya hanya seorang perempuan saja yang bernama Zainab.

Setiap hari Hamid dipanggil oleh Mak Asiah karena hendak membeli makanan yang dijualnya itu. Pad awaktu itu juga ia ditanya oleh Mak Asiah tentang orang tuany6a dan tempat tinggalnya. Setelah Hamid menjawab pertanyaan itu, Mak Asiah pun meminta kepada Hamid agar ibunya datang ke rumahnya. Sejak kedatangan ibu Hamid ke rumah Mak Asiah itulah, maka persahabatan mereka itu menjadi karib dan Hamid beserta ibunya sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.

Ketika Hamid berumur tujuh tahun, ia pun atas biaya Haji Jakfar yang baik hati itu disekolahkan bersama-sama anaknya, Zainab, yang umurnya lebih muda daripada Hamid. Pergaulan Hamid dengan Zainab, seperti pergaulan antara kakak dengan adik saja. Setelah tamat dari SD, Hamid dan Zainab pun sama-sama dilanjutkan sekolahnya ke Mulo.

Setelah keduanya tamat dari Mulo, barulah Hamid berpisah dengan Zainab, karena menurut adat Zainab harus masuk pingitan, sedang Hamid yang masih dibiayai oleh Haji Jakfar, meneruskan pelajaran ke sekolah agama di Padangpanjang. Di sekolah itulah Hamid mempunyai seorang teman laki-laki yang bernama Saleh.

Pada suatu petang, tatkala Hamid pergi berjalan-jalan di pesisir, bertemulah ia dengan Mak Asiah yang baru datang dari berziarah ke kubur suaminya. Ia naik perahu sewaan bersama-sama dua orang perempuan tua lainnya. Pada pertemuan itulah Mak Asiah mengharapkan kedatangan Hamid ke rumahnya pada keesokan harinya, karena ada suatu hal penting yang hendak dibicarakannya. Setelah Hamid datang pada keesokan harinya ke rumah Mak Asiah, maka Hamid pun dimintai tolong oleh Mak Asiah agar ia mau membujuk Zainab untuk bersedia dinikahkan dengan kemenakan Haji Jakfar yang pada waktu itu masih bersekolah di Jawa. Tetapi permintaan itu ditolak oleh Zainab dengan alasan ia belum lagi hendak menikah. Penolakan itu sebenarnya disebabkan Zainab sendiri telah jatuh cinta kepada Hamid. Bagi Hamid sendiri, sebenarnya ia cinta kepada Zainab, hanya cintanya itu tidak dinyatakan berterus terang kepada Zainab. Karena itulah, sebenarnya suruhan Mak Asiah itu bertentangan dengan isi hatinya. Tetapi karena ia telah berhutang budi kepada Mak Asiah, maka dilaksanakan permintaan tersebut. Setelah kejadian itu Hamid pun pulang ke rumahnya, tetapi sejak itu, ia tidak pernah lagi datang ke rumah Mak Asiah, karena sejak itu ia meninggalkan kota Padang menuju Medan dan selanjutnya pergi ke tanah Suci Mekah. Dari Medan Hamid berkirim surat kepada Zainab untuk minta diri pergi menurutkan kemana arah kakinya berjalan. Surat Hamid itulah yang selalu mendampingi Zainab yang dalam kesepian itu.

Tentang Saleh, setelah ia tamat dari pelajarannya di sekolah agama di Padangpanjang, ia pun menikah dengan seorang gadis teman Zainab yang bernama Rosna. Setelah menikah Saleh meneruskan pelajarannya ke Mesir. Tetapi sebelum ke Mesir, ia naik haji ke Mekah lebih dahulu. Tentang Rosna, walaupun ia sudah menikah, sering pula ia datang ke rumah Zainab, sehingga dari gerak-gerik dan pernyataan Zainab kepadanya nyata sekali bahwa Zainab sebenarnya mencintai Hamid. Hal itu oleh Rosna diberitahukan kepada suaminya yang ada di Mekah. Kebetulan di Mekah Saleh dapat bertemu dengan Hamid dan pengaduan isterinya itu dikabarkan pula kepada Hamid, sehingga hal Zainab yang sengaja dilupakannya itu, sekarang timbul dalam ingatannya kembali. Hanya saja sekarang ia lebih senang, karena ternyata cintanya mendapat balasan dari pihak Zainab.

Sepuluh hari kemudian sekembali Saleh berziarah dari Madinah, ia mendapat surat dari Rosna yang mengabarkan keadaan diri Zainab yang makin bertambah kurus karena sakit-sakit saja. Bersamaan dengan surat itu, Hamid pun menerima surat dari Zainab yang mengabarkan tentang dirinya yang sakit-sakit saja, sehingga ia berpengharapan sangat tipis untuk dapat bertemu. Kedatangan surat Zainab itulah yang menyebabkan kesehatan Hamid bertambah terganggu an sakitnya makin payah.

Tidak lama kemudian Saleh mendapat kawat dari isterinya yang mengabarkan bahwa Zainab telah meninggal. Kabar kematian Zainab itu dapat diketahui oleh Hamid sehingga menyebabkan ia makin bertambah sedih. Kesedihan yang dideritanya itulah yang menyebabkan Hamid meninggal dunia di bawah lindungan kaabah di tanah suci Mekah, dan dikuburkan di kuburan tanah suci itu.

Akhirnya ceritera ini diakhiri dengan kunjungan pengarang (karena ceritera ini berbentuk aku) dan Salek ke kubur Hamid sebelum mereka itu meninggalkan tanah suci karena telah menunaikan ibadah haji itu. Setelah itu pengarang dan Saleh menuju ke Jedah. Di Jedah itulah mereka itu berpisah. Saleh meneruskan pelajarannya ke Mesir, sedang pengarang terus pulang ke tanah airnya.

Makna Yang Terkandun

  1. Di balik kisah tersebut ada ajaran budi pekerti yang perlu dicermati antara lain rasa kesadaran diri karena status social dalam masyarakat ternyata sangat berpengaruh terhadap pemilihan jodoh.
  2. Kisah roman ini saya nilai telah mengajarkan kepada kita bagaimana ketulusan cinta itu dilahirkan.
  3. Bagaimana seharusnya manusia menghadapi segala beban hidupnya, dan tentunya mengajarkan kepada kita apa makna kecintaan pada dua insan manusia itu. Nilai luhurnya mungkin bisa menjadi pelajaran bagi kita semua dalam menyikapi hidup ini, ditambah lagi kedalaman makna dan kata-katanya, yang membuat kita hanyut untuk merasakan pula apa yang mereka rasakan.
  4. Mengupas masalah kawin paksa yang berlaku di Minangkabau.
  5. Pernikahan yang dilaksanakan karena paksaan orang tua ataupun adat akan berakibat tidak baik. Karena itu orang tua perlu mempertimbangkan pendapat anak yang hendak dinikahkan.
  6. Kebahagiaan hidup akan runtuh jika jiwa atau batin manusia telah rusak, walaupun betapa banyak harta benda kekayaan orang itu.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 9, 2010 in Kumpulan Sinopsis Novel, Novel HAMKA

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: