RSS

Arsip Kategori: Puisi Chairil Anwar

Sajak Putih (puisi Chairil Anwar)

Sajak Putih

(karya Chairil Anwar)

 

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 4, 2010 in Kumpulan Puisi, Puisi Chairil Anwar

 

Tag:

Derai Derai Cemara (puisi Chairil Anwar)

Derai Derai Cemara

(karya Chairil Anwar)

 

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 4, 2010 in Kumpulan Puisi, Puisi Chairil Anwar

 

Tag:

Yang Terampas dan yang Putus (puisi Chairil Anwar)

Yang Terampas dan yang Putus

(karya Chairil Anwar)

 

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

1949

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 4, 2010 in Kumpulan Puisi, Puisi Chairil Anwar

 

Tag:

Malam di Pegunungan (puisi Chairil Anwar)

Malam di Pegunungan

(karya Chairil Anwar)

 

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 4, 2010 in Kumpulan Puisi, Puisi Chairil Anwar

 

Tag:

Cintaku Jauh di Pulau (puisi Chairil Anwar)

Cintaku Jauh di Pulau

(karya Chairil Anwar)

 

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 4, 2010 in Kumpulan Puisi, Puisi Chairil Anwar

 

Tag:

SENJA DI PELABUHAN KECIL buat : Sri Ajati (puisi Chairil Anwar)

SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati

(karya Chairil Anwar)

 

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

1946

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 4, 2010 in Kumpulan Puisi, Puisi Chairil Anwar

 

Tag:

HAMPA Kepada Sri (puisi Chairil Anwar)

HAMPA

kepada sri

(karya Chairil Anwar)

 

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 4, 2010 in Kumpulan Puisi, Puisi Chairil Anwar

 

Tag: